Kamis, 17 Agustus 2017

Headlines:

Wawancara  |   Profil  |  Crime Story  |  Investigasi  Tips Suara Pembaca 

You are here: Investigasi Menelurusi Penjual VCD/DVD Bajakan di Mal

Menelurusi Penjual VCD/DVD Bajakan di Mal

Surel Cetak PDF
6718 readings

Ilustrasi

PORTALKRIMINAL.COM - JAKARTA: Ratu Plaza, Pembelinya Rata-rata Orang KayaSiapa yang tak kenal 'Ratu Plaza' pusat perbelanjaan yang terkenal ditahun 80 ini,  salah satu lantai dijadikan tempat penjualan VCD dan DVD bajakan. Pedagang disana tidak merasa takut menjual  VCD dan DVD bajakan secara terang-terangan. Pedagang di gedung ini tentunya mempunyai modal lebih dibanding dengan pedagang yang ada dipinggir jalan atau yang ada di pasar-pasar. Begitupun para pembelinya, rata-rata orang kelas menengah keatas alias orang kaya.


Kendatipun pada tahun 2008 lalu, pedagang VCD dan DVD di gedung yang terletak di jalan Sudirman ini pernah digerebek, namun tidak menyurutkan nyali mereka menggelar lagi. Operasi yang dilakukan  oleh Direktorat Kriminal Khusus dikala itu menyikat habis pelaku dan barang buktinya diamankan untuk dimusnakan. Tiga bulan kemudian out late tersebut dibuka lagi, bahkan jumlah out late semakin bertambah, kini mencapai 50 out late.

Hasil pengamatan PORKRIM, out late tersebut digelar di lantai 3, untuk mencapai tempat ini tidak sulit. tempat ini satu lantai  dengan penjual komputer dan telepon selular. Jika kita menggunakan eskalator, poisinya persis di bagian kiri gedung tersebut. Para pedagang membuat out late tersebut dari rangka kayu dan besi dengan ukuran 2 x 3 meter.

Setiap boks tertulis kategori VCD dan DVD, mulai dari kategori lagu, film, game yang diproduksi dalam negeri dan luar. Kemudian agar pengunjung tertarik, pedagang juga menyiapkan perangkat TV dan VCD dan DVD player untuk 'me-ngetes' hasil suara dan warna VCD dan DVD tersebut. Pemiliknya tidak langsung menjual, namun pemiliknya mengunakan pelayan wanita paruh baya berdiri di setiap out latenya.

Pedagang yang ada di gedung tersebut tidak ketinggalan menyajikan lagu, film, game terbaru, mulai dari film-film luar negeri yang masuk kategori boks office pun ada disini. Begitu juga jenis  lagu-lagu dari penyanyi top dalam dan luar negeri pun ada disini, sepertinya mereka tidak tahu kalau yang dijual mereka adalah barang-barang bajakan.

Para pembeli beragam, yang jelas adalah kelompok masyarakat menengah keatas, mulai dari pekerja yang ada di sekitar kawasan Jalan Sudirman, juga kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar dan ada juga dari berbagai daerah yang ada di Jakarta. Pada umumnya ramai dikunjungi pada saat jam-jam istirahat kerja hingga sore hari.

Dalam penelurusan PORKRIM, saat membeli  VCD bajakan lagu produksi luar negeri hanya Rp 20.000 perbuahnya, padahal kaset yang sama buatan orijinalnya ditempat resmi bisa mencapai Rp 80.000. Begitu juga lagu-lagu terbaru dalam negeri bisa dijual dengan harga Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000 padahal kaset orijinal Rp 70.000.

Memang jika dibanding dengan lapak-lapak yang menjual VCD dan DVD bajakan bisa lebih murah lagi harganya untuk lagu-lagu pop dalam negeri bisa dijual hanya Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Hal ini tentunya berbeda, mungkin karena mereka harus membayar sewa tempat di gedung yang terletak di Jalan Sudirmanm yang relatif cukup mahal.

Ketika PORKRIM menanyakan kepada salah seorang penjaga out late sebut saja Ningsih, tempatnya bisa menjual rata-rata 500 biji kaset bajakan per hari, itu belum lagi lagu-lagu barat. Pada umumnya pembeli disini tidak lah rewel katanya, yang penting kualitas suaranya dan gambar VDC ataupun DVD-nya jernih.

Ningsih tak pernah merasa takut, kalaulah barang yang dijualnya tersebut adalah barang-barang bajakan yang dilarang oleh pemerintah. "Kan yang lain menjual bebas, mengapa merasa takut," ujar wanita berumur 20 tahun ini.(jak)