You are here: Portal Opini Catatan Pinggir Buat Polri

Catatan Pinggir Buat Polri

Surel Cetak PDF
181 readings

Upa Labuhari

Di Hari Bhayangkara ke 71, Polri Perlu Merenung Diri
Oleh : Upa Labuhari *)

Hari ini, 1 Juli 2017, Polriku  memperingati hari Bhayangkara ke 71. Sebagai warga pencinta Polri, Kuucapkan selamat , sambil menyatakan keprihatinan yang mendalam  bahwa Polri  telah menjadi sasaran utama  pembunuhan dari kelompok teroris yang  tidak kenal perikemanusian. Peristiwa penikaman dua anggota Brimob yang terjadi di Mesjid Falatehan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Jumaat malam  menjadi bukti nyata bahwa Polri dalam sasaran penganiayaan dari kelompok teroris.



Sayangnya,  pelaku penganiayaan ini tertembak mati oleh petugas Brimob sehingga selain menyulitkan Polri untuk mengusut siapa sebenarnya pelaku dan sangkur siapa  yang digunakan pelaku untuk menganiaya kedua anggota Brimob, juga menambah panjang data bahwa petugas Polri dalam hal ini Brimob  tidak pernah mau mengambil tindakan, persuasif, melumpuhkan pelaku yang berusaha melawan ketika akan ditangkap ,selain langsung mematikannya. Dan inilah persoalan sebenarnya mengapa Polisi begitu dibenci oleh teroris untuk juga dijadikan korban.

Dalam dua bulan terakhir ini ,tercatat  lebih 10 orang anggota Polri  meninggal maupun luka parah akibat aniaya dari kelompok teroris yang masih terus diburu keberadaannya untuk ditangkap . Walaupun sudah ada penjelasan dari pimpinan Polri Jenderal Pol Drs Tito Karnavian bahwa anggota polri begitu dibenci oleh kelompok teroris di negeri ini, karena dianggap sebagai manusia kafir. Tapi bagiku yang mengerti tentang keberadaan Polri ,  tidak seperti itu prediksinya.

Menurut prediksiku, penyebabnya anggota Polri  dibenci oleh para teroris di tanah air , bukan seperti yang dikatakan oleh Kapolri. Tapi anggota Polri  dibenci oleh para teroris di negeri ini karena  dianggap sebagai ‘’pembunuh’’ kawan kawan mereka yang sedang berusaha mengganggu situasi  keamanan dinegeri ini. Anggota Polri dianggap  tidak bekerja profesional untuk dapat memberi ampun kepada mereka yang disangka sebagai teroris dengan tidak menembak mati si teroris seperti yang terjadi di jalan Falatehan Blok M Kebayoran Baru Jumat malam. Tapi  oleh  masyarakat yang mendambakan keamanan, tindakan anggota Polri ini  mengeksekusi si teroris yang membawa senjata tajam sangatlah  tepat. Hukuman tembak ditempat yang  engkau berlakukan  bila bertemu dengan para  teroris yang melawan ketika diminta menyerah , dipuji oleh masyarakat  sehingga diperlukan kebijakan dalam mengambil keputusan.

Pengalamanku mengikuti penangkapan pentolan teroris Bom Bali I  yang berusa melarikan diri dari kejaran polisi di daerah Banten, merupakan suatu contoh yang sangat baik untuk dilaksanakan oleh petugas Polri yang sedang  memburu para teroris di negeri ini.

Walaupun pada waktu itu diatas sebuah bus, sudah diketahui para pentolan teroris bom Bali I yang dipimpin Imam Samudra sudah siap dengan senjatanya untuk melakukan perlawanan ketika akan ditangkap, dengan sigap komandan operasi dipimpin Brigjen Pol Drs Gories Mere ( sekarang Komisaris Jenderal Polisi Purnawirawan ) memerintahkan bawahannya untuk menangkap hidup hidup para teroris tersebut. Dan ketika para pentolan teroris itu ditangkap, tidak ada tanda ‘’ permusuhan’’ antara para teroris dengan petugas Polri yang menangkapnya.

Bahkan ketika para pentolan teroris itu sampai di Mabes polri setelah menempuh perjalanan dari Serang Banten dengan menggunakan kendaraan Barakuda, para teroris itu tidak ada yang berusaha melarikan diri. Mareka semuanya terlihat dalam suasana keakrapan sehingga ketika diperiksa, semuanya secara terbuka mengakui perbuatannya bahwa merekalah pelaksana peledakan bom Bali satu yang membawa korban kurang lebih 200 org yang kebanyakan adalah turis manca negara yang sedang berlibur di Bali.

Sekarang suasana penangkapan para teroris oleh penyidik Polri terlihat  sudah menggunakan metode lain sehingga oleh para teroris  engkau dianggap sebagai  anggota Bhayangkara  yang  bekerja tidak profesional dalam melaksanakan tugas sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat.

Engkau dianggap bekerja semaumu sendiri ,menangkap masyarakat yang tidak berdosa lalu menahannya dengan melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh Undang Undang Hukum Acara Pidana. Merekapun membenci anggota Polri tanpa kau sadari. Anggota Polri  baru sadar dikala para teroris berbuat kekerasan terhadapmu.

Untuk itulah ditengah keprihatinan masyarakat terhadap engkau Bhayangkara Negara karena terus menjadi sasaran teroris, aku menyarankan agar kebiasaanmu menangkap masyarakat yang dianggap sebagai pelaku kejahatan,tidak melanggar aturan hukum yang sudah ditentukan. Tangkaplah jaringan teroris itu seperti ketika tim Bom Bali I dan II menangkap terpidana Amrozi, Ali Imron, Muklas ,Imam Samudra, dan lainnya . Mereka ditangkap dengan baik dan diperiksa dengan baik sehingga tidak menimbulkan kebencian dari mereka yang ditangkap. Engkau harus berani bertindak menangkap hidup-hidup  jaringan teroris yang selama ini mengganggu keamanan masyarakat. Jangan sedikit melawan, engkau habisi nyawa para teroris itu sehingga jaringannya menganggap engkau sebagai bhayangkara pencabut nyawa.

Dan dikala engkau salah menangkap mereka , satrialah mengakui kesalahan dengan menyatakan salah bertindak. Dan kalau engkau dihukum karena salah menangkap mereka  ketahuilah bahwa itu lebih baik daripada engkau bersembunyi dibalik hukum yang berlaku karena undang undang melindungimu untuk bertindak cepat.

Janganlah engkau bertindak sebagai  anggota Bhayangkara yang  profesional padahal itu menyakitkan masyarakat sebagaimana sering dilakukan oleh penyidik Polri di daerah . Untuk menyebutkan satu persatu dari tindakan Polri yang menyebut dirinya sebagai profesional tapi menyakitkan rakyat mungkin tidak cukup mengisi halaman tulisan ini. Tapi yang paling kasat mata terlihat pada tindakan penyidik Direktorat Polisi Perairan Polda Sulsel ketika menangkap 3 orang nelayan Takalar di bulan April lalu.

Ketiga Nelayan itu sebenarnya belum dapat  disangka sebagai melanggar Undang undang Migas karena tindakan  menjual Bahan Bakar Minyak bersubsidi sebagaimana disangkakan kepada mereka , belum terjadi. BBM yang dibeli dengan resmi di SPBU Gowa setelah direkomendasikan oleh Koperasi Nelayan masih tersimpan rapih diatas kapal yang akan digunakan berlayar ke Pulau Maluku Barat. Dan ketika nelayan itu ditahan, penyidik tidak berbuat sebagaimana diamanatkan dalam pasal 21 ayat 3 KUHAP, bahwa surat penahanan itu harus disampaikan kepada keluarga tersangka dalam waktu selama lamanya tujuh hari setelah penahanan.

Demikian juga dengan berita acara penangkapan terhadap ketiga tersangka tidak dibuatkan oleh penyidik  sehingga pelanggaran demi pelanggaran sebagaimana diamanatkan dalam  Undang undang hukum acara pidana terus berlangsung. Dan sewaktu  para tersangka membawa persoalan mereka pada Pengadilan negeri Makassar lewat gugatan Praperadilan, penyidik tidak hadir di Pengadilan. Penyidik seolah-olah menganggap keluhan para tersangka,tidak perlu digubris karena menganggap sebagai benar dalam menangkap para tersangka.


Beruntung bahwa gugatan ketiga tersangka cepat diketahui oleh Irwasda Polda Sulsel sehingga penyidik diperintahkan untuk menghadiri sidang kedua praperadilan ini yang akan dilaksanakan 4 Juli mendatang. Menurut Irwasda Polda Sulsel, Kombes Pol Drs Lukas , Penyidik tidak boleh absen dalam sidang praperadilan itu sebab sidang  itu merupakan kontrol masyarakat kepada penyidik dalam melaksanakan tugasnya yang profesional. Penyidik harus bertanggung jawab atas kontrol masyarakat yang menahan ketiga tersangka yang dianggap melanggar aturan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perminyakan.

Dari gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa ditengah keprihatinan masyarakat atas nasib  Bhayangkara Negara yang kini sedang dalam inceran para teroris untuk disakiti dan dibunuh, ada juga keprihatinan masyarakat atas aparat Polisi yang diketahui  bekerja tidak sesuai  undang-undang. Untuk itu di hari Bhayangkara ke 71 ini, selayaknya seluruh jajaran Polri merenung diri sejenak dengan menjawab sendiri pertanyaan yang ada ditengah masyarakat ,’’ Mengapa masyarakat yang diayomi, dilindungi dan dilayani, masih mau berbuat jahat kepada Bhayangkara negara ?. Belum puaskah masyarakat dilayani, dilindungi dan dilayani  selama ini ?.

Semoga renungan ini dapat mengembalikan citra polri yang baik ditengah masyarakat dan Polri dapat melaksanakan  mottonya  bahwa Polisi itu Pelayan masyarakat, Polisi itu Pelindung Masyarakat, Polisi itu Pengayom Masyarakat. Bukan sebaliknya, Polisi itu tuan masyarakat, Polisi itu yang paling benar ditengah masyarakat, Polisi itu dapat semaunya menangkap masyarakat tanpa melewati prosedur hukum. Dirgahayu Polisiku yang ke 71, semoga engkau disayangi masyarakat seperti engkau menyayangi masyarakat. (Wartawan Senior *)




Berita Terkait: