You are here: Portal Opini Perang Terhadap Mafia Narkoba di Filipina Berdampak ke Indonesia

Perang Terhadap Mafia Narkoba di Filipina Berdampak ke Indonesia

Surel Cetak PDF
119 readings

Ilustrasi

Oleh: Mochtar Siahaan *)
PORTALKRIMINAL.COM - JAKARTA:  Sikap tegas Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dalam memberantas peredaran gelap narkoba di negaranya, tidak hanya  mengirim ribuan orang ke kamar mayat, juga membuat sindikat mafia narkoba internasional angkat kaki dari negara tersebut.

Bahkan mafia narkoba, kini  harus "berpikir seribu kali" sebelum menyelundupkan barang haram yang sangat berbahaya bagi kesehatan itu ke Filipina.

Sebagaimana diberitakan luas oleh berbagai media internasional, termasuk media massa di Indonesia, atas perintah Presiden Rodrigo Duterte, ribuan orang yang terlibat kasus narkoba tewas dibunuh tanpa proses hukum. Dimana tidak hanya gembong pengedar dan anggota sindikat pengedar narkoba yang dikirim ke kamar mayat, pengguna narkoba di negara itu juga ditembak mati tanpa proses peradilan. Meskin mendapat sorotan tajam dari dunia internasional, karena tindakan pembunuhan terhadap sindikat mafia pengedar gelap dan pengguna narkoba, itu dinilai melanggar Hak Asasi Manusia ( HAM ), Presiden Filipina tidak perduli. Kepolisian Filipina terus diperintahkan memburu para pengedar narkoba dan mengirimnya ke kamar mayat.

Kebijakan Presiden Filipina tersebut tentu berdampak terhadap peredaran gelap narkoba di Indonesia. Mafia pengedar narkona yang selama ini menyelundupkan barah haram itu ke Filipina, tentu tidak mau kehilangan pasarnya. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar  270.000.000 orang, tentu dijadikan sasaran. Direktur Kriminal Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto menjawab pertanyaan Wartawan Protalkriminal di Jakarta, Rabu 20 September 2017 mengatakan, jajarannya kini harus kerja keras mengawasi seluruh pintu masuk Indonesia, baik pintu masuk resmi, seperti Bandara dan Pelabuhan Laut.

Persoalannya menjadi berat, ujar Brigjen Eko Daniyanto, selain pintu masuk resmi, masih ada ribuan pintu masuk tidak resmi atau biasa disebut jalan tikus melalui jalur laut. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dimana itu bisa digunakan sindikat mafia narkoba sebagai pintu masuk. "Saya sudah menyurati semua jajaran Direktorat Resese Narkoba ke seluruh Polda untuk memonitor jalan-jalan tikus tersebut guna mencegah masuknya narkoba selundupan", tambah Eko Daniyanto.

Untuk memberantas masuknya narkoba selundupan melalui jalan-jalan tikus, tentu membutuhkan tambahan tenaga pernosil yang cukup banyak, biaya operasional dan peralatan sesuai kebutuhan medan yang dihadapi. Direktur Reserse Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Daniyanto tentu tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah masuknya narkoba selundupan melalui jalan- jalan tikus tanpa didukung personil, peralatan dan biaya operasional. Sementara kerasnya kebijakan Presiden Filipina dalam memberantas narkoba di negaranya, menjadi ancaman bagi Indonesia. Mengapa ? Indonesia kini dijadikan sasaran oleh jaringan sindikat mafia penyelundup narkoba internasional.

Selama tahun 2017 ini, tangkapan Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) cukup tinggi. Hal itu tentu merupakan indikator, bahwa narkoba selundupkan ke Indonesia meningkat. Ibarat  penomena gunung es, mungkin yang berhasil ditangkap atau digagalkan penyelundupan narkoba hanya 10 persen. Melihat besarnya tangkapan narkoba selundupan selama tahun 2017, berarti sangat besar jumlah narkoba selundupan yang lolos masuk Indonesia. Perang terhadap sindikat mafia narkoba yang dilakukan Presiden Filipina, kiranya patut menjadi perhatian pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Apakah tidak perlu kita lakukan perang yang lebih keras lagi terhadap sindikat mafia narkoba demi menyelamatkan anak bangsa, khusus generasi muda.  (Wartawan Senior *)




Berita Terkait: