You are here: Portal Sorot Kampanye Mirip Kaki 5

Kampanye Mirip Kaki 5

Surel Cetak PDF
610 readings

Edison Siahaan

Oleh:  Edison Siahaan *)
“Dipilih-dipilih ayo barang bagus harga dibanting” teriakan khas yang sering terdengar saat melintas di kawasan ramai para pedagang kaki lima. Selain untuk menarik perhatian calon pembeli, teriakan para pedagang kaki lima itu juga mengingatkan agar lebih cerdas memilih sesuatu sebelum membeli.


Suasana itu mirip dengan masa kampanye Pilkada saat ini. Tim pemenangan dari tiga pasangan calon Gubernur DKI melakukan berbagai upaya untuk meyakinkan masyarakat Ibukota Jakarta.

Media massa dan media sosial menjadi sarana efektif untuk menyampaikan visi-misi yang sarat dengan janji manis.Masyarakat Ibukota pun ribet disesaki bermacam informasi tentang program para calon. Ada yang menyebut yang layak jadi gubernur DKI hanya pasangan ini,karena sudah teruji kemampuannya, dan tidak lupa memaparkan keburukan pasangan calon lain.

Hiruk pikuk kampanye Pilkada DKI seperti promosi produk kecap yang selalu mengaku paling baik dan enak alias sesuai  selera.Masyarakat semakin bingung, sebab diajak  untuk membandingkan antara pasangan calon dengan pasangan calon petahana. Bagaimana mungkin membandingkan buah jeruk dengan buah mangga, padahal kalau membandingkan seharusnya jeruk dengan jeruk.

Tetapi itulah kampanye dalam sebuah pesta demokrasi. Masyarakat harus lebih cerdas memilih calon pemimpinnya. Warga Ibukota Jakarta tidak boleh larut dan terbuai apalagi terjebak dengan janji lidah tak bertulang. Tidak sepenuhnya visi-misi yang sarat dengan janji manis para pasangan calon dapat dijadikan dasar untuk menentukan pilihan pada Februari 2017 mendatang.

Sebenarnya warga Jakarta tidak harus berkerut dahi untuk menilai kinerja Gubernur.Sebab dengan kasat mata dapat dilihat, apakah Jakarta sudah terbebas dari kemacetan dan banjir ? Kalau belum, lalu pasangan calon mana yang diyakini akan bisa menyelesaikannya dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan. Karena kedua hal tersebutlah yang selama ini menjadi beban utama warga dan kota Jakarta.

Banyak teori yang dapat digunakan untuk menilai kinerja dan kesuksesan seorang Gubernur. Tetapi secara umum, keberhasilan seorang Gubernur dapat dinilai apakah signifikan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditandainya turunnya angka kemiskinan, murahnya biaya pendidikan dan kesehatan.

Meski sedikit sulit, tetapi informasi tentang penyerapan anggaran penting diketahui masyarakat,agar bisa menilai apakah Gubernur dan seluruh jajarannya bekerja sesuai dengan program yang disusunnya dan dituangkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sebab APBD adalah landasan seluruh aktivitas pemerintah Provinsi.

Tentu masyarakat juga menginginkan sosok Gubernur yang dapat menjadi pelindung,pelayan dan pengayom bagi semua golongan. Gubernur bukan justru membuat kebijakan yang mempersulit warganya. Gubernur adalah kepala pemerintahan provinsi sekaligus bapak dari semua golongan. Ucapan dan pernyataan Gubernur jangan  menimbulkan  pro kontra , apalagi menyakiti hati rakyatnya. Waspadalah, jangan sampai salah pilih, sesal kemudian tiada arti.  (Mantan Ketua Forum Wartawan Polri/FWP *)




Berita Terkait: