Sabtu, 16 Desember 2017

Headlines:

Wawancara  |   Profil  |  Crime Story  |  Investigasi  Tips Suara Pembaca 

You are here: Portal Sorot Ketakutan Menghantui Kita

Ketakutan Menghantui Kita

Surel Cetak PDF
324 readings

Edison Siahaan

Oleh: Edison Siahaan *)
Aksi teror bom Kampung Melayu  belum mengakhiri kecemasan masyarakat. Sebab hati dan fikiran masyarakat masih dihantui berbagai aksi kejahatan yang marak terjadi, baik itu yang dilakukan perorangan maupun kelompok.


Aksi kejahatan paling anyer  dialami tiga warga saat melintas di Jalan Kihajardewantoro atau tepatnya di jembatan Sasak Mentering Kelurahan Sawah, Ciputat Kota Tangerang Selatan, Minggu (28/5/2017) dini hari. Mereka dikeroyok sekelompok pemuda dengan menggunakan berbagai macam senjata tajam.
.
Rasa cemas masyarakat kian mencekam, lantaran video maupun informasi peristiwa-peristiwa menakutkan itu  langsung beredar luas melalui media sosial. Sehingga masyarakat merasakan, kapan saja potensi menjadi korban kejahatan, tinggal menunggu waktu.

Sejatinya ,aksi-aksi kejahatan yang seakan tidak dapat dikendalikan, tidak perlu terjadi atau minimal bukan menjadi sumber katakutan yang melanda masyarakat. Bahkan beragam gangguan keamanan dan ketertiban (Kamtibmas) lainnya dapat dicegah dan diatasi apabila amanat UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia  dilaksanakan dengan baik.

UU no 2 tahun 2002 Polri diberikan tugas fokok dan fungsi (Tufoksi) memelihara Kamtibmas,penegakan hukum serta memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan  masyarakat. Dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya Polri wajib memiliki keahlian dan ketrampilan serta melaksanakan kewenangannya secara professional. Tidak hanya itu, Polri juga diberikan kewenangan diskresi untuk melakukan upaya yang dapat dipertanggungjawabkan  sesuai dengan kode etik kepolisian.

Bahkan dalam melaksanakan upaya preemtif, Polri dapat  melakukan pembinaan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum sehingga  peran serta dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan Kamtibmas terus meningkat.

Sedangkan tugas dibidang preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum agar keselamatan orang maupun harta benda masyarakat dapat terwujud, Polri  dapat melaksanakan patroli,pengawasan dan pengaturan.

Polri dapat bertindak refresif dengan menerapkan hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku terhadap semua pelanggaran hukum yang mengganggu Kamtibmas dan potensi meresahkan masyarakat.  

Masyarakat hanya berharap bisa mendapatkan rasa aman,nyaman,tertib dari Polri yang diberikan kewenangan untuk memelihara Kamtibmas. Masyarakat tidak “kepo” apakah para pelaku kejahatan itu adalah anggota geng sebuah kelompok atau perorangan. Sebab, faktanya, rasa aman masyarakat telah dirampas oleh sekelompok penjahat.

Masyarakat hanya meminta adanya upaya antisipasi terhadap semua bentuk gangguan Kamtibmas oleh Polri. Bukan penolakan fakta seperti bantahan yang dilontarkan Kapolres Tangerang Selatan AKBP Fadli Widyanto, bahwa para pelaku kejahatan di wilayahnya  bukan kelompok geng motor tetapi hanya pelaku kriminal biasa.

Polri harus bergerak cepat,tepat dan professional untuk memberantas segala bentuk gangguan Kamtibmas. Para pelaku kejahatan tidak boleh dibiarkan bebas memamerkan kekuatan apalagi merasa bangga jika menjadi serigala bagi yang lainnya. Sebab masyarakat yang tidak memiliki kekuatan, hanya bisa resah, cemas dan khawatir karena kapan dan dimana saja mereka bisa menjadi korban kejahatan. (Wartawan Senior *)




Berita Terkait: