Kamis, 17 Agustus 2017

Headlines:

Wawancara  |   Profil  |  Crime Story  |  Investigasi  Tips Suara Pembaca 

You are here: Portal Sorot Mule Dhisek

Mule Dhisek

Surel Cetak PDF
162 readings

Edison Siahaan

Oleh: Edison Siahaan *)
Mengapa Mudik menjadi problematika klasik yang muncul setiap tahun ?
Mudik berasal dari singkatan bahasa Jawa yaitu “Mule Dhisek” atau pulang sebentar ke kampung halaman desa,kota atau Negara. Mudik identik dengan hari Raya Idul Fitri tentu  menjadi momentum yang setiap tahunnya di tunggu-tunggu masyarakat khususnya yang merayakan Idul Fitri.


Mudik menjadi kegiatan untuk bisa memanfaatkan waktu bagi perantau atau pekerja migran dapat berkumpul dengan sanak saudara merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mudik menjadi sangat spesial, karena penduduk Indonesia sebanyak 85 persen adalah Muslim. Sehingga mudik menjadi tradisi khas lebaran atau Hari Raya Idul Fitri.

Biasanya, menjelang musim Mudik seperti saat ini, para pemudik sudah menentukan pilihan jenis transportasi yang akan digunakan untuk mudik. Bahkan jauh hari sebelumnya sudah memesan tiket baik itu moda transportasi darat,laut dan udara untuk mengantisipasi kenaikan harga tiket yang cenderung naik, juga habis.

Mudik menjadi probelamatik klasik bagi pemudik maupun pemerintah sebagai pelaksana dan penanggungjawab lalu lintas dan angkutan jalan. Saat musim mudik terjadi pergerakan puluhan juta orang dalam waktu  dan tujuan yang hampir bersamaan. Kondisi dan situasi seperti itu tentu akan potensi menimbulkan problem yang berdampak pada kemacetan, hingga kecelakaan.   
Secara kasat mata terlihat, penyebab terjadinya kemacetan adalah jumlah kendaraan yang jauh melebihi kapasitas daya tampung ruas jalan. Guna meminimalisir gangguan mudik itu, pemerintah fokus pada pembangunan infrastruktur atau menambah ruas jalan khususnya jalan tol.

Ironisnya, problematik klasik musim mudik itu belum dapat diatasi secara maksimal. Bahkan dari tahun ke tahun kemacetan tak dapat dihindari. Begitu juga angka kecelakaan setiap mudik dan balik terus mengalami peningkatan. Setiap tahun musim mudik, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan di jalan raya mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan.

Dapat dipastikan, penyebab utama terjadinya kecelakaan adalah kelalaian manusia atau human error, karena pengendara mengantuk, ngebut, kelelahan, tidak tertib serta tidak mengindahkan rambu lalu lintas. Kemudian akibat kendaraan yang tidak layak jalan serta infrastruktur yang tidak mendukung yaitu jalan rusak, minimnya penerangan jalan.

Kepala gatal kaki digaruk, itulah kondisi kita saat menjelang musim mudik. Menjelang musim mudik pemerintah melakukan persiapan, konsolidasi serta saling sinergi untuk mewujudkan keamanan,keselamatan,ketertiban, kelancaran (kamseltibcar) lalu lintas bagi para pemudik. Bahkan perusahaan milik Negara maupun swasta serta lembaga-lembaga lainnya ikut berperan aktif menyiapkan bus-bus gratis untuk mengangkut para pemudik. Disusul berbagai statemen tentang kesiapan dan prediksi hingga jaminan Kamseltibcar musim mudik para petinggi instansi dan lembaga yang bertanggungjawab terwujudnya Kamseltibcar lalu lintas pada musim mudik ini.

Sayangnya, kita kurang peduli bahkan lupa pentingnya menanamkan budaya tertib berlalu lintas. Kita lalai untuk menjadikan tertib berlalu lintas sebagai kebutuhan yang wajib dipahami setiap pengguna jalan raya demi untuk keselamatan dirinya maupun orang lain.

Kecanggihan teknologi transportasi, hebatnya infrastruktur yang tersedia serta banyaknya jumlah petugas yang dikerahkan, menjadi tidak efektif bahkan tak berguna, apabila tidak disertai dengan mental budaya tertib berlalu lintas masyarakat pengguna jalan raya. Kita semua berharap musim mudik 2017 akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga !  (Ketua Indonesia Traffic Watch/ITW *)





Berita Terkait: