You are here: Suara Pembaca Kampung Ambon, Bisnis Narkoba Kebal Hukum

Kampung Ambon, Bisnis Narkoba Kebal Hukum

Surel Cetak PDF
4055 readings

kampung_ambon1.jpg

Siapa yang bertanggung jawab, dan siapa yang mesti dipersalahkan "Kampung Ambon", Cengkareng Jakarta Barat dijadikan tempat peredaran dan transaksi narkoba? Semua aparat terkait nampaknya diam dan membisu seribu basa. Padahal di tempat itu sudah sangat nyata dan melawan keberadaan UU Narkotika.


Aparat kepolisian, aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), atau Badan Narkotika Daerah (BND), yang notabene di bawah langsung pemerintah daerah, nampak diam. Diamnya ini sangat mustahil bila mereka tidak tahu. Karena masing-masing dari mereka memiliki kepanjangan tangan di wilayah-wilayah.

Aparat kepolisian, punya Polda Metro Jaya, Polres, Polsek, dan bahkan Polpos. BNN, punya BND dan swadaya masyarakat yang dibantu oleh Kecamatan, Kelurahan, sampai ketingkat RW dan RT.

Tapi, tetap saja mereka asyik beroperasi. Sepertinya tidak kenal takut dengan hanya bermodalkan, ‘nikmati sepuasnya narkoba, asal tidak di bawa ke luar wilayah”. Sangat luar biasa hal ini. Di mana, di luar komplek, aparat kepolisian terus saja membombardir jaringan narkoba hingga sampai bermiliar-miliar rupiah narkoba dihancurkan, dan pelakunya ditangkapi.

Boleh percaya dan boleh juga tidak. Pastinya, sepanjang deretan rumah, mulai dari RT 01 hingga 07 lebih mudah membeli narkoba ketimbang kacang goreng. Para pemuda di perumahan itu juga turut menjajakan barang terlarang itu. Aktivitas transaksi biasanya di lakukan di ujung jalan perumahan. Mereka bergerombol bak warga yang sedang ronda malam. Padahal di dalam tas mereka berisi ganja, ekstasi dan shabu.

Kalau ganja  satu ampel berisi enam paket Rp150.000.  Mau make langsung juga boleh. Lelaki berkulit hitam pekat itu menunjuk sebuah rumah yang bisa dipakai bila ada  pembeli yang ingin memakai narkoba di tempat.

Sekilas, rumah berpagar besi hitam itu memang terlihat seperti rumah warga biasa. Kala pintu bercat kuning mengkilap itu di buka, ternyata di dalam banyak orang sedang pesta narkoba. Mereka tampak duduk berkelompok di lantai sambil menikmati kepulan asap shabu.

Nah, untuk mencari tempat seperti itu tak sulit di Kampung Ambon. Bagi pecandu narkoba bahkan masih tersedia banyak pilihan tempat. Tak jauh dari mulut jalan utama, sebuah rumah berukuran tipe 21 telah disulap menjadi arena pesta shabu. Bangunan, rumah itu sih terbilang kumuh. Tapi soal pelayanan dan kenyamanan jangan tanya. Meski terkesan tak terawat tapi di dalam rumah ada Ac-nya.  Agar para pemakai nyaman, si empunya rumah juga melengkapi ruangan dengan sebuah monitor pemantau CCTV.  Beda-beda tipis dengan supermarket-lah.

Pemandangan seperti itu, sangat luar biasa. Nah, sekarang di mana keberadaan penegak hukum. Yang sulit-sulit bisa dibasmi dan pelakunya bisa ditangkapi, tapi yang nyata ini tidak?

Bicara teori memang sulit. Mungkin saja aparat terkelabui dengan berbagai macam cara mereka. Tapi masa iyah sih, aparat penegak hukum yang sudah memiliki peralatan canggih dan petugasnya profesional dan pintar-pintar bisa dikelabui?

Makanya, saat ini diperlukan koordinasi tingkat tingkat Muspida untuk menangani Kampung Ambon itu. Dengan niat yang tulus, dan kebersihan hati memang ingin memberantas narkoba, sangat-sangat percaya keinginan publik memberantas narkoba tercapai.

Jakarta, 21/9- 2011

Wasalam



Dede Yudhistira
(Orang yang anti narkoba)






Berita Terkait: